Minggu, 04 Oktober 2015

Just a wildest plan

Pantulan sinar mentari hari ini seperti menyadarkan ku.
Aku bangun masih dengan bekas bekas air liur di sekeliling mulutku.
Hari ini, hari yang kutunggu.
Hari ini memang aku tak berangkat sekolah, katakan saja aku libur, tapi pikiranku lebih sibuk ketimbang orang tuaku yang sedang bekerja.
Beberapa hari ini, ya, beberapa hari ini, saat beberapa anak kelas 12 di sekolah menengah atas seluruh indonesia sedang gugup, aku lebih khawatir ketimbang mereka.

Aku, bangun, lalu tersadar harus mandi.
Aku harus siap menghadapi rencanaku.
Menghadapi apa yang aku atur, walau tak tau apa yang akan terjadi.
Ya, rencanaku itu yang membuat pikiranku lebih sibuk ketimbang orang tuaku dan orang orang yang akan ujian.

Ku ambil handuk lalu segera mandi.
Memakai pakaian, lalu berjalan menuju dapur.
Tempat favoritku.
Kusapa asisten rumah tanggaku. Dan tersenyum.

"Kau tampak lebih bugar hari ini. Ada apa?" Ucapnya.
Aku hanya tersenyum lalu memakan beberapa potong pancake yang ia buat.
Hari ini, ya, hari ini aku akan menebar senyum ke semua orang yang kutemui.
Semuanya.
Sebelum.....

***

"Bi, sepertinya hari ini aku akan seharian mengerjakan beberapa proposalku, biarkan saja jika aku tak makan. Aku telah membawa beberapa makanan kecil kesukaanku. Bila mama menelpon, bilang saja langsung menghubungiku. Terimakasih, Bi. Lalu, satu lagi, tidak usah memasak. Tapi bila bibi lapar, beli saja dahulu. Dadah bibi." Senyumku terlempar lagi.
Kakiku melenggang mantap.
Pikiranku membayangkan kemungkinan kemungkinan terbaik dan terburuk.

Aku duduk di ranjangku.
Menatap almari buku ku yang berada tepat di samping ranjangku.
Menerawang keluar pikiranku.

Ini terlalu berat, pikirku.
Harus ku akhiri.
Aku juga ingin hidup bebas.
Ya, aku benar benar harus melakukan rencanaku.
Rencana tergila ku.

Ku ambil ponsel ku.
Headsetku.
Dan bantalku.
Ku baringkan sebentar kepalaku.

Berat.
Beberapa hari ini sungguh berat.
Pikiranku tersita.
Sedangkan, beberapa hari ini aku harus mempersiapkan ujian akhirku dan beberapa proposal.
Persetan dengan sekolah.
Bila ini tak di akhiri, sekolahku juga akan tak karuan.

Sekarang dengan berat ku putuskan.
Ya, aku akan melakukan rencana tergilaku ini.
Untuk pertama kalinya.

***

"Bunga?! Jawab aku!" Aku mulai frustasi.
Sahabatku.
Ya, mungkin tidak lagi.
Bagaimana aku menyebutnya sahabat jika dia malah menertawaiku dengan semua ini.
Masalah yang hanya seberat 1 gram namun bagiku jutaan ton.

Aku sudah cukup sebal dengan wanita itu. Ku tutup sambungan telepon ku lalu mulai menulis apapun yang akan ku katakan pada catatan di telepon genggamku.

***

mas....
mas, selamat ya mas telah melewati beberapa hari untuk ujian nasional.
jika bisa, aku mau berbicara.
tapi disini saja.
Sepertinya aku tidak cukup kuat bila harus bertemu.
Sebelumnya, aku akan mengucapkan terimakasih.

Terimakasih mas telah menemaniku dalam kebosanan.
Terimakasih atas balasan balasan tentang pertanyaanku yang kurang penting.
Terimakasih juga mas untuk beberapa kali menghibur ku di kala sedih.
Terimakasih juga mas untuk beberapa nasihat dan wejangan yang di berikan saat aku tak tentu arah.
Makasih juga mas, telah memberikan buku buku yang berguna untuk aku ujian nasional.
Terimakasih mas, beberapa kali mempercayakan hal hal besar kepadaku.
Trimakasih telah ada di sampingku, lebih dari 36 bulan ini.

Walaupun, 36 bulan ini tak berarti bagimu, mas.
Walaupun, 36 bulan ini hanya angin belaka.
Walaupun, 36 bulan ini kamu hanya menganggapku sebagai adik angkatan saja.
Walaupun, 36 bulan ini aku hanya sebagai pengganggu saja.
Aku, iya, seseorang yang tak pernah singgah sedikitpun di hatimu, sejak 36 bulan lalu, akan tetap berterimakasih.

Lalu, yang kedua, yang akan kulakukan adalah meminta maaf.
Dengan semua gangguan yang kuberikan.
Aku sadar, aku pengganggu.
Aku sadar, aku kekanak kanakan.
Aku sadar pula mas, aku seorang yang tak tahu diri.
Aku meminta maaf atas waktu mu yang aku sita.
Aku meminta maaf telah mengganggu waktu istirahatmu.
Aku juga sangat meminta maaf kadang tak sadar telah mengganggu masalah pribadimu.
Aku tau aku salah.
Ya, aku salah karena aku buka siapa siapamu.
Aku hanya seorang yang berharap engkau sadar aku disini.
Benar benar menerimamu apa adanya.
Aku bahkan seperti ingin merengkuhmu jika aku bisa, dikala kamu bercerita masa lalumu.

Katakanlah aku berlebihan.
Tapi ini yang terjadi 36 bulan ini.
Beberapa kali kamu memberiku lampu hijau yang menyala, beberapa kali kau bahkan berteriak 'stop! Tak perlu mengejarku lagi. Aku tak ingin terlalu lama bersamamu.'
Kau terlalu berbelit belit.
Kau seperti teka teki tersulit di dunia.
Atau aku yang trrlalu bodoh.
Terserah bagaimana kau menilainya.

Dan, yang ketiga, aku terlalu takut untuk menulis hal ketiga ini sebenarnya.
Tapi, ini yang terpenting menurutku.
Aku memutuskan untuk memberitahukan mu semuanya.

Untuk yang terakhir kalinya, aku meminta maaf mas.
Aku meminta maaf karena dari 36 bulan yang lalu sampai sekarang, jam, menit, dan detik saat kamu membaca pesan ini, aku masih sangat mencintaimu.

Bukannya aku berhenti bertanya kabar berarti aku berhenti berjuang, hanya saja aku sadar bahwa ini sangat mengganggumu mas.
Jadi, lebih baik aku mengubur keinginanku untuk berjuang, toh perjuangan ku sekuat apapun tak berarti di depanmu.

Dan aku belum selesai.
Aku memutuskan untuk menyatakan semuanya karena ada satu hal juga yang aku putuskan.
Aku memutuskan menyatakan semuanya karena aku memutuskan membuka lembaran baru.
Ya, terlalu banyak perbandingan yang kau buat sehingga aku tak bisa mencari yang lebih baik dimataku ketimbang kamu.

Jadi, mulai sekarang, aku menyatakan semuanya, lalu aku hidup di lembar yang baru, tanpa ada bayang bayang dari dirimu.

Katakanlah bahwa aku menyerah.
Ya! Aku memang betul betul menyerah sekarang.
Tanpa ada alasan yang lain, aku mengaku kalah sekarang.
Telak.

Dan yang sangat terakhir, terimakasih telah membuat perjalanan terakhirku berlabu dengan indah.
Ini akhir yang indah menurutku.
Aku mengakhiri dengan lebih dewasa menurutku.

Aku telah menyatakan semuanya mas.
Sekarang tinggal pilihanmu menceritakan semuanya atau tidak.

Dan aku telah mempersiapkan semuanya, jikalau kamu juga menyatakan sesuatu. Walau itu buruk untuk ku terimana ataupun sebaliknya.

Selamat siang, mas. Selamat atas ujian nasionalnya.

***

Aku telah selesai menulisnya.
Lebih mudah ketimbang perkiraanku.
Ku ambil tisu dan menghapus air mataku.

Pukul 12.47

Kuputuskan mengirim lalu mematikan telepon genggamku.
Aku terlalu penasaran jika tak mematikannya.
Aku butuh asupan makananku.
Tapi kosong.
Aku bingun dan menggeram sebentar.

Dengan langkah malas, aku menuju dapur lagi.

Aku bertemu dengan asisten rumah tanggaku lagi.
"Bila mama telepon, ucapkan saja aku tidur ya bi. Kondisi badanku memburuk, bi." Ucapku sambil meminum jus rutinku.
Dia hanya menjawab ya.
Aku memakan sedikit makanan dan meminum obatku.
Aku meninggalkannya yang sedang menyapu dan membersihkan berbagai perabot.

***

Aku tertidur terlalu lama.
Sekitar 2 jam.
Sekarang kepalaku sedikit pening.
Aku mendesahkan kantuk ku.

Aku sedikit terlonjak kaget mengingat apa yang aku lakukan sebelum tertidur.
Dengan tergesa aku hidupkan telepon genggamku itu.
Lalu pergi kekamar mandi sebentar.

Pikiranku terus berkecamuk.
Apa yang dia katakan, ya, Tuhan. Batinku.
Aku pusing.
Frustasi.

Setelah selesai, aku kembali.
Sedikit berlari.
Lalu mengambil benda keramatku.

Aku sedikit berdoa.
Berharap tidak menohok hatiku.

Aku membukanya.
Membacanya.
Air mataku berlinang.
Ini terlalu...
Lebih dari terlalu buruk.
Aku bingung....

***

Yah.... Selesai.

Jumat, 13 Maret 2015

God, Please.

Aku termenung di atas tempat tidurku. Seprai robot yang kupakai sungguh menggemaskan. Dua bantal dan satu guling yang menemaniku cukup untuk kupeluk kala hatiku sedang tak kuat menahan terpaan masalah. Di atasku -yang sedari tadi kupandangi - ada atap transparan yang langsung menembuskan cahaya bulan ke kamarku. Disamping ku tergeletak dua boneka besar hadiah ulang tahun dari temanku. Mereka juga barang yang kupeluk saat beberapa musuh batinku datang.

Tapi kini berbeda. Dua bantal, dua boneka besar, satu guling, atap yang memberikan pemandangan langit yang cerah sama sekali tidak membantu. Pikiranku berkecamuk.

Mereka berperang. Sangat hebat. Kenapa terlalu kuat. Dan kenapa keributan mereka sampai di hati. Entah, hatiku mulai ikut andil dalam perang ini. Hatiku mulai sakit. Entah sakit karena menerima opini pertama atau harus menerima opini sang otak yang kedua.

Aku mulai menitikkan air mata. Ini sungguh berat. Sangat. Kenapa harus ada perdebatan yang seperti ini? Kenapa aku tak bisa mengontrol nya? Ini sungguh berat.

Tapi, jika aku tak mengontrolnya, bagaimana hari esok akan berlalu? Apa yang akan terjadi? Apakah aku akan pingsan? Atau aku akan kuat?

Oke. Beberapa kali aku melewati hal yang tidak jauh seperti ini, aku melewatinya dengan kuat. Meski raut wajahku tak bisa kusembunyikan.

Tapi... Bukan itu. Itu sebagian dari curahan ku. Ini yang aku inginkan....

Tuhan, kumohon dengan sangat. Aku yakin Engkau tidak akan pernah bosan dengan apa yang aku katakan, bahwa aku meminta yang terbaik. Tapi bukan, kini berbeda. Aku hanya meminta satu hal, hal yang tak pernah ku minta sebelumnya. Hanya satu Tuhan. Beri aku kekuatan terbesar Tuhan. Dengan apapun keputusanMu itu. Aku BERSERAH. Aku tau, setiap rencana yang Kau beri bukan rencana kecelakan, bukan. Tidak akan pernah. Aku telah berusaha, Engkaupun tau, kini kau yang menilai.

Kini, disini titik terapuhku Tuhan. Betapa aku sangat membutuhkan seseorang yang amat kuat untuk kurengkuh dan berbagi segala sesuatunya. Maaf Tuhan, boneka, bantal dan guling sangat tidak cukup.

Tuhan, ini pintaku dan keriunduan ku. Terimakasih Tuhan.

Baladah anak SMP H-1

Rabu, 17 Desember 2014

---

ini cerpen buatan terpaksa karena bahasa indonesia yang asdfghjk.


MELODI MERAH
Selalu begini, 30 menit berlalu, dari arah pintu belum juga muncul seseorang yang kutunggu. Aku membuat janji pukul 12 dan sekarang aku sudah mulai bosan menunggu di pusat perbelanjaan yang ramai ini. Ku mainkan sebentar ponselku sambil melihat apakah ada kabar darinya atau alasan mengapa ia terlambat sekarang. Tapi lagi – lagi belum ada kabar apapun.
Itu dia! Teriakku di dalam hati. Nyaris mulutku ingin mengeluarkan teriakan jika aku tak menyadari aku berada dimana.
“Dari mana saja kau? Aku menunggumu sejak 30 menit yang lalu.” Aku menyembunyikan kekesalan yang ada dalam hatiku sejak tadi.
“Maaf, aku sempat lupa memiliki janji denganmu.” Ucapnya tanpa ada rasa bersalah. Tangannya sibuk membolak – balik buku menu tapi tak memesan satu menupun dari daftar itu.
“Lupakan saja. Apa yang akan kau katakan?” tanyaku sambil terus menatapnya. Akhir malam tadi, ia memberiku kabar, ia harus memberi tahu satu hal padaku dengan segera.
“Sebenarnya bukan apa – apa? Aku hanya ingin memberimu pilihan, tinggalkan aku atau aku akan meninggalkanmu. Jangan ada hubungan lagi antara kita.” Perkatannya selalu tak pernah ada basa – basi, sama sepertiku. Tapi perkataanku tak pernah setajam itu dan tak pernah semenjurus itu. Tentu saja aku termenung beberapa detik dan dia menikmati dunia ponselnya lagi, mungkin bersama dengan teman – teman barunya. Beruntungnya aku, ia tak melihat raut wajahku yang sangat jelas menggambarkan kekecewaan.
“Kalau begitu aku harus pergi, masih ada sebuah acara lagi yang akan aku datangi.” Dia melepaskan diri dari sofa coklat yang halus itu. Mulai membalikan badan dan melangkahkan kaki semakin menjauh dariku. Sama seperti hubungan kami saat ini.
***
Aku sampai di depan istana sederhanaku, ku taruh buku tebal dan tas yang ku bawa sedari tadi. Ku lempar beban yang ada dipundak ke singgasana kecilku. Ku ambil bantal dan mulai memejamkan mata sebentar memikirkan apa yang terjadi seharian penuh ini.
Dia meninggalkanku. Hanya itu yang menyita pikiranku saat ini. Apa arti hubungan kita selama ini? Banyak bercerita, memberikan banyak saran ke satu sama lain dan juga saling menolong. Kepalaku mulai berputar saat memikirkan hal ini.
Aku baru teringat, aku belum sedikitpun makan sejak tadi pagi. Aku bergegas menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama, aku keluar dengan rambut basah.
“Bibi, maaf malam – malam mengganggu, ada makanan tidak? Aku kelaparan sejak tadi pagi perutku belum terisi sesuap nasi.” Ucapku pada pesuruh rumah tangga di istana kecilku. Sudah pukul 8, aku tidak enak mengganggunya.
Ada, non. Di meja makan ada nasi kesukaan noncil. Tidak masalah, bibi juga belum ingin beristirahat.” Jawabnya. Aku melangkahkan kaki menuju ruang makan. Seperti biasanya, aku hanya makan sendiri.
Setelah memakan beberapa suap nasi dan juga tak lupa untuk meminum obat, kubuka tugas – tugasku yang menumpuk.
Banyak sekali. Keluhku.
Pukul 11.23 segala kewajibanku akhirnya telah kuselesaikan untuk hari ini. Kupejamkan mata untuk kewajiban – kewajiban baru yang esok pagi akan datang.
***
06.50
Ku langkahkan kaki menuju kelas. Namun bagaikan ada sebuah penghalang seseorang yang kemarin siang memutuskan hubungan menuju kearahku dan menarik tanganku kesebuah tempat yang tidak begitu ramai.
Aku membutuhkanmu.” Ucapnya singkat. Masih seperti kemarin, tanpa basa – basi. Dan itu semakin membuatku yakin, perkataannya kemarin benar – benar dari mulutnya.
Ada apa?” jawabku menggunakan raut muka yang paling datar. Aku tak mau dia melihat kegelisahanku.
Beberapa hari lagi kota akan mengadakan olimpiade, ikutlah dengan kelompokku.” Ucapnya menatapku.
Ya. Bukannya aku tak pernah bisa menolakmu.” Jawabku lalu meninggalkannya.

“Melodi!” seseorang memanggilku membuat kepalaku seketika mengarah keasal suara. Cinta ternyata. “Hey! Darimana saja kau ini? Sedaritadi Bima mencarimu. Apa kau sudah bertemu dengannya?” pertanyaan dari Cinta ingin membuatku tertawa tapi yang keluar hanya senyuman dari mulutku.
Aku sudah bertemu dengannya. Dia hanya mengajakku bergabung dengan kelompok olimpiadenya. Lalu kukatakan ya. Bagimana lagi?” jawabku. Tak semuanya dapat kukatakan pada teman dekatku ini karena aku takut dia akan memikirkan masalahku daripada masalahnya karena menurut cerita yang ia sampaikan kepadaku masalahnya juga tak ringan.
Baiklah. Ayo masuk kelas, sebentar lagi pasti tanda masuk sekolah berbunyi.” Ajaknya sambil menggandeng dan tersenyum manis kearahku.
***
Beberapa bulan berlalu. Aku belum bercerita bagaimana tentang olimpiade itu. Kami memenangkannya. Seperti keputusan sepihaknya, dia benar – benar menjauhiku. Disaat pengumuman perlombaan dia langsung berlari menuju teman – temannya tanpa mengatakan selamat kepadaku. Aku hanya tersenyum lalu menuju Cinta yang siap memberiku selamat saat aku menang ataupun kalah.
Sekarang setelah kurang lebih 5 bulan kegiatan belajar mengajar di sekolahku berjalan dengan lancar, akhirnya aku merasakan udara berlibur. Aku mencoba merenungi apa yang telah terjadi selama 5 bulan ini. Kembali aku teringat kejadian dimana dia meninggalkanku. Aku hanya tersenyum. Hatiku memang sangat sakit sampai saat ini. Aku memainkan ponselku melihat apakah ada yang tidak sibuk dengan liburan mereka masing – masing.
Sedang sibuk? Bima mengirimiku pesan.
Tidak. Aku menjawabnya.
Beberapa detik kemudian dia menelponku. Dengan sedikit rasa gembira aku menerima panggilannya.
Halo, Melodi? Aku ingin bercerita.” Ucapnya tanpa basa – basi lagi. Dia menceritakan apapun sampai hal kecil seperti tersandung di trotoar jalan sekalipun.
Maaf melodi, aku harus menemui temanku. Sampai jumpa.” Dia menutup telponnya sebelum aku membalas sampai jumpa kepadanya. Sepenting itukah teman barunya?
***
Beberapa hari yang lalu tubuhku tidak kuat lagi melakukan kegiatan – kegiatan yang diluar batas. Sekolahku kemarin mengikuti lomba dan aku terlibat, lalu malam tadi tubuhku benar – benar tidak bisa bertahan lagi. Tubuhku panas, tapi aku merasakan dingin yang amat sangat, bibi yang melihatku kekamar langsung panik lalu memanggil abangku untuk mengantarkanku kerumah sakit.
“Melodi, saat ini kamu hanya perlu beristirahat saja. Jangan terlalu banyak pikiran dan kegiatan. Tubuhmu tidak terlalu kuat untuk menahan benturan yang kamu terima.” Itu yang aku mengerti dari ucapan dokter, yang lain sepertinya hanya angin biasa.
Aku bosan beberapa kali aku memainkan ponsel tidak ada yang penting masuk dalam ponselku.
Halo? Apakah kamu sakit?” cinta menelponku.
Kamu kesini saja. Aku akan mengirimimu pesan dimana aku terbaring tak berdaya disini.” ucapku sambil tersenyum.
Jangan bercanda, Melodi.” Nada kekhawatiran keluar dari mulut Cinta. Aku sedikit senang.

Cinta telah datang untuk menemaniku di kamar yang sama sekali tidak membuatku nyaman, abangku telah pergi beberapa menit setelah cinta datang dan kembali dengan makanan kesukaanku lalu mencium keningku dan akhirnya pergi lagi.
Drtttt….. drrrttttttt…..
Sebentar ya mamaku menelpon.” Ucapku lalu mengakat telepon dari mama.
Halo ma?” sapaku.
Mama dengar kamu sakit, sesuai perjanjian kita, minggu depan kamu sudah harus sampai sini ya.” Ucap mama. Beberapa kali aku berpikir, mengapa aku dipenuhi orang orang yang tidak bisa berbasa – basi?
“baik mah. Setelah aku sembuh dan berpamitan dengan temanku ya.” Jawabku mematuhi semua perkataan mama.
Sampai jumpa, sayang.” Aku menutup telepon dan mulai menatap Cinta.
Ada apa?” tanyanya dengan wajah yang penuh pertanyaan.
Aku harus menyusul mamaku.” Aku meneteskan air mata dan langsung memeluk cinta. “Maafkan aku.”
Pergilah, patuhi mamahmu.” Suaranya menjadi serak.
***
Bima aku akan pindah, selagi kau masih ingin bertemu aku untuk yang terakhir kalinya, kau bisa datang nanti malam di tempat dimana kamu meninggalkan aku. Aku mengiriminya pesan itu. Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Dan aku berjanji tidak akan pernah berangkat sebelum aku melihatnya.
Ya. Aku akan datang tepat waktu. Sampa jumpa nanti malam. Dia menjawab pesanku. Aku menyunggingkan senyum.
***
Aku berjalan menuju tempat yang aku dan Bima maksud. Aku tidak berharap dia tidak telat. Tapi aku melihat seorang pria dengan badan tegap yang akhir – akhir ini membuat pikiranku penuh. Itu artinya dia tidak datang terlambat.
Biarkan aku yang memulai.” Ucapku sedikit pembuka setelah aku duduk.
Aku hanya ingin memberikan sebuah surat dan memberi tahumu bahwa aku akan menyusul mamaku yang pasti kamu tahu dia dimana.” Ucapku sambil memberikan sebuah amplop berwarna merah hati dan tertulis kata ‘Melodi’ dengan tinta perak disitu. Aku sungguh menyukai amplop spesial ini.
Maafkan aku beberapa bulan ini aku benar – benar tidak menjalin hubungan yang baik denganmu, aku hanya ada untukmu saat aku membutuhkanmu. Aku tidak ingin melebih – lebihkan ini, tapi aku benar – benar akan merasa kehilangan.” Ucapnya. Ini adalah perkataannya yang paling panjang beberapa bulan ini.
Aku tidak bisa menolak ini. Aku sudah gagal disini dan aku harus menyusul mamaku, sesuai perjanjian.” Jelasku.
Aku harus pergi kebandara sekarang. Sampai jumpa disana. Aku harap kamu akan kuat seperti yang aku lakukan saat kamu meninggalkan aku.” Aku melangkahkan kaki menjauhi dia. Sama seperti beberapa bulan yang lalu. Tapi kini aku membaliknya.
***
Kamar Bima tampak sepi, hanya dia yang bernafas, surat yang ia putar – putar dan jarum jam yang bergerak. Kini ia bimbang, ia takut tidak kuat untuk membaca apa yang di tulis Melodi disitu.
Aku harap kamu akan kuat seperti yang aku lakukan saat kamu meninggalkan aku.” Kata – kata melodi terngiang di kepala Bima. Dan Bima meyakinkan dirinya bahwa dia akan kuat. Bima membuka amplop merah dari melodi dan membacanya.
Hai Bima, aku pasti sudah menaiki pesawat saat kamu membaca surat ini, aku hanya ingin bilang bahwa aku tidak tau kamu akan kehilangan aku yang akan pindah karena beberapa bulan yang lalu kamu menyatakan sesuatu yang membuat pikiranku penuh. Aku ingin memberi tahumu, aku tidak apa – apa, jangan khawatirkan aku.
Beberapa hari ini akhirnya aku sadar, bahwa seringkali kamu datang disaat kamu membuatuhkanku tapi aku mencoba untuk mengabaikan itu. Disaat kamu melupakan janjimu, aku mencoba untuk tersenyum dan seolah tidak pernah terjadi apa esok paginya di sekolah. Apa itu yang kamu mau?
Maaf jika ada alasan yang membuatmu meninggalkanku beberapa bulan yang lalu. Tapi kini aku mempunyai alasan saat aku meninggalkanmu dan pasti kau tau. Aku harus menyusul mamaku.
Aku tidak bisa kembali untuk bertemu denganmu lagi, tapi jika saatnya datang kau bisa bertemu aku. Terima kasih atas kenangan yang sering kau buat. Sampai jumpa, Bima.
Sahabatmu, Melodi.
Bima meremas surat itu air matanya berjatuhan. Penyesalannya begitu besar. Mengapa akhir – akhir ini dia sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memikirkan Melodi yang selalu ada untuknya.
***
2 tahun berlalu. Hujan rintik – rintik membasahi jendela kamar Bima, bukan hal yang baru jika orang – orang mengetahui bahwa Bima murung sepeninggalan Melodi. Sakitnya yang dulu tidak pernah kambuh, sekarang sering menyerangnya.
“Minum obatmu dulu atau kau akan cepat – cepat menyusul Melodi!” suruh tante Iriana, ibu Bima.
“Itu yang ku inginkan.” Jawab Bima, entah dengan sadar atau tidak.
“Jangan, aku masih membutuhkanmu.” Tahan Tante Iriana.
Bima mulai memejamkan mata, mencoba untuk mengingat wajah cantik Melodi yang sempat ia kecewakan.
“Sebentar lagi aku akan menyusulmu, Melodi, walau mamaku akan menangisiku.” Ucap Bima seolah – olah pada Melodi.
***

Minggu, 02 November 2014

FIRASAT?



Malam berkabut
Bintang tak terlihat
Bumipun menutup pandangannya dari bulan

Entah apa yang langit ingin katakan
Tapi semua terasa
Ada sesuatu
Entah kau akan tinggalkan aku
Atau aku yang terpaksa akan tinggalkan kau

Entah apa yang akan membuat kita terpisah
Tapi bintang, bulan, bumi, dan tata surya
Sepertinya mengerti

Apa aku salah?
Tapi perasaanku tak pernah salah
Apa tanda ini yang salah?
Aku tak tau
Tapi apapun yang terjadi
Jangan kau benarkan perasaanku

Minggu, 02 Maret 2014

TAK BERJUDUL

by : vanoae

ada sentuhan dalam ingatan
ada kelembutan di setiap belaian
semua itu mengisyaratkan luka di dalam hati
semua melagukan kesedihan di dalam hati

dalam gelap ini aku sendiri
hanya gelap ini yang menjadi saksi bisu gundahan hati ini
dalam hening ini aku lemah
dan hanya hening ini yang menyaksikanku terhempas dengan lemah

dirimu...
mencintaimu bak menyentuh dasar lautan
merindukanmu seperti meraih udara yang tak terlihat
menyayangimu layaknya menghitung jutaan bintang di langit

gelap hening ku menangis sedu
melepas resah lelah di dalam hati
teringat kisah lalu yang indah
kala kau mendekap hangat hingga ku terjaga
ada sentuhan dalam ingatan
ada kelembutan di setiap belaian
semua itu mengisyaratkan luka di dalam hati
semua melagukan kesedihan di dalam hati ini